Motivasi merupakan suatu kondisi kejiwaan individu yang dapat mendorongnya untuk melakukan suatu aktivitas guna pemenuhan kebutuhan atau mencapai tujuan. Motivasi menjadi daya bagi individu untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Menurut Tabrani Rusyam (1980:100) pada hakekatnya motivasi adalah perbuatan energi dalam diri seseorang ditandai dengan timbulnya perasaan dari reaksi untuk mencapai tujuan. Dalam pengertian tersebut menggambarkan bahwa motivasi mengandung suatu kekuatan yang timbul dalam diri seseorang sebagai dukungan untuk memenuhi keinginannya.
Dalam pengembangan suatu organisasi atau lembaga, motivasi dipandang sebagai suatu karakteristik dan suatu keadaan. Pandangan tentang hal ini dikemukakan oleh Soejono Trimo (1986 : 174) sebagai berikut :
a. Motivasi itu pada hakikatnya merupakan suatu karakteristik atau suatu kepribadian yang cukup stabil sehingga setiap individu dipandang berbeda dari individu yang lain, termasuk orientasinya terhadap pekerjaan/tugasnya.
b. Motivasi itu sebenarnya merupakan suatu keadaan (state) psikologis yang dapat diubah/dibentuk.
Berkaitan dengan motivasi yang dianggap sebagai suatu karakteristik (kepribadian), dimana seorang melaksanakan tugas/pekerjaannya tidak didasarkan pada ada tidaknya penghargaan bagi penyelesaian tugas/pekerjaan tadi, melainkan pada aktivitas pekerjaan itu sendiri serta adanya perasaan puas yang diperolehnya dalam melakukan pekerjaan tersebut. Setiap individu yang tampil dengan motivasi seperti ini lebih tertarik pada konteks pekerjaan (job context) dari pada penghargaan atau upah yang diperolehnya. Sedangkan motivasi yang termasuk sebagai suatu keadaan maksudnya yaitu seseorang (individu) dalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang dimilikinya sangat bergantung pada suatu keadaan yang dihadapi pada saat itu. Keadaan utama yang paling menentukan motivasi kerja seseorang adalah jenis penghargaan (rewards) yang disediakan dalam lembaga/organisasi tempatnya berkiprah. Tetapi kadang-kadang motivasi kerja itu akan datang dari keinginan untuk memperoleh kepuasan kerja yang muncul dalam diri individu sendiri. Jadi motivasi kerja yang timbul sangat bergantung pada keadaan yang di hadapi pada saat itu.
Dengan adanya motivasi akan terjadi perubahan energi dalam diri seseorang yang mengandung kemauan untuk bekerja atau melakukan sesuatu yang diperlukan sekaligus berusaha meniadakan berbagai gejala psikologis yang membuat diri malas dan tidak mendukung keinginan menjalankan sesuatu pekerjaan/kegiatan berkaitan dengan hal tersebut, Sardiman AM (1996 : 75) mengungkapkan sebagai berikut :
Motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi tumbuh didalam diri seseorang. Maka dapat dikatakan sebagai sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan energi pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan kejiwaan, perasaan dan emosi untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu daya yang timbul dalam diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu aktivitas, sekaligus meredam perasaan tidak mau yang ada dalam diri seseorang. Adanya kondisi tersebut tidak terlepas karena adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan, adanya dorongan yang timbul didalam diri serta faktor tuntutan terhadap setiap manusia untuk mewujudkan tujuan-tujuan hidup yang ingin dicapai.
Timbulnya motivasi dalam diri setiap orang pada dasarnya berhubungan dengan tujuan masing-masing dalam melakukan kegiatan atau tindakan tertentu. Adanya faktor tujuan menggerakkan setiap orang termotivasi untuk berbuat atau bertindak.
Terkait dengan hal tersebut, Sardiman AM. (1996 : 86) menjelaskan terdapat (tiga) fungsi motivasi, antara lain :
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Pandangan lain mengenai fungsi motivasi dikemukakan oleh Kartini Kartono (2002 : 17), bahwa motivasi berfungsi sebagai alasan dasar, pikiran dasar, gambaran dan dorongan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu karena motivasi berpengaruh besar sekali terhadap tingkah laku manusia dalam merealisasikan keinginan-keinginan yang ada pada dirinya.
Orang menjadi mau dan berusaha untuk menjalankan kegiatan sebaik-baiknya, tidak terlepas dari adanya motivasi yang timbul dalam diri orang tersebut maupun dorongan dari luar yang selaras dengan kepentingannya dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Motivasi membawa kekuatan (vitalitas) bagi seseorang untuk bertindak dan bekerja berdasarkan kebutuhan pada saat itu.
Sedangkan menurut Djudju Sudjana (2000 : 156) menguraikan tujuan motivasi yang terdapat dalam diri seseorang, sebagai berikut :
Motivasi pada dasarnya bertujuan menggerakkan seseorang atau kelompok orang dengan menumbuhkan dorongan atau motive dalam diri orang atau kelompok orang tersebut untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai rencana dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
Pendapat diatas menunjukkan bahwa motivasi bertujuan memberikan dorongan, semangat, dan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan, pekerjaan, atau tindakan tertentu dalam mewujudkan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi lain dari motivasi yaitu menentukan prioritas kegiatan yang harus dilakukan, antara yang bermanfaat atau sebaliknya bagi pencapaian tujuan saat itu, sehingga motivasi memberi dorongan bagi seseorang untuk menyeleksi dan memilih kegiatan atau perbuatan.
Pendapat para ahli mengenai jenis-jenis motivasi cukup beragam karena sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing. Ada yang membagi jenis motivasi dilihat dari kebutuhan, dan ada pula yang membagi motivasi dilihat dari asal timbulnya motivasi.
Salah satunya dikemukakan oleh Morgan, King Weisz, dan Schopler yang dikutip oleh Isbandi Ruminto Adi (1994 : 159) bahwa berdasarkan jenis kebutuhan, motivasi dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu :
a. Motivasi Biologis, Tercakup di dalamnya adalah motivasi lapar (hunger motivation); motivasi haus (thrst motivation); motivasi seksual (sexual motivation).
b. Motivasi sosial, termasuk di dalamnya antara lain; motivasi pencapaian (achievement motivation); dan motivasi kekuasaan (power motivation).
c. Motivasi Aktualisasi Diri (self actualization); dan motivasi untuk bertindak efektif (effectance motivation) dalam kelompok motivasi yang membuat seseorang bertindak efektif.
Pandangan diatas menunjukkan bahwa terdapat tiga kelompok besar motivasi dalam diri setiap manusia ditinjau dari jenis kebutuhan yaitu motivasi biologis, motivasi sosial, dan motivasi diri. Ketiga motivasi tadi menjadi alasan bagi setiap individu dalam berbuat, bertindak, dan melakukan sesuatu kegiatan atau pekerjaan yang diperlukan. Keinginan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan, melatar belakangi seseorang untuk termotivasi untuk belajar. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat bersumber dari dalam diri sendiri maupun atas pengaruh dari pihak lain atau lingkungan interaktifnya. Karena motivasi pula seseorang tergerak untuk merealisasikan apa-apa yang didambakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kaitan dengan itu berdasarkan sumber motivasi, Sondang P. Siagian (1995 : 139) mengemukakan 2 (dua) jenis motivasi, yaitu:
a. Motivasi Instrinsik, yaitu motivasi yang berada dalam diri seseorang atau dorongan atau gerakan untuk melakukan sesuatu yang tidak dipengaruhi oleh faktor laind ari luar dirinya, seperti; kebutuhan mempunyai pekerjaan atau kebutuhan untuk memperoleh teman baik.
b. Motivasi Ekstrinsik, yaitu motivasi yang timbul pada diri seseorang akibat pengaruh dari luar dirinya, akibat hubungan dengan orang lain ataupun karena pengaruh lingkungan sekitarnya.
Dari uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa motivasi pada setiap orang bersumber dari dalam diri orang yang bersangkutan atau atas pengaruh dan dorongan dari pihak lain diluar dirinya sebagai stimulan (rangsangan) input untuk melakukan suatu tindakan, kegiatan dan pekerjaan yang memungkinkan tercapainya tujuan yang diinginkan pada saat itu.
Berdasarkan uraian – uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi dalam kehidupan manusia demikian beragam, baik ditinjau dari jenis kebutuhan, sumber timbulnya motivasi maupun sifat dari motivasi tersebut. Keberadaan jenis-jenis motivasi dalam diri seseorang, sangat tergantung pada kondisi yang dialami atau dihadapi saat itu yang menuntutnya untuk dipenuhi, sehingga ada motivasi yang diperlukan pada saat-saat tertentu saja dan ada pula yang diperluklan secara permanen
Blog Archive
18.31
Tinjauan Tentang Motivasi Belajar
embun hati
18.30
Tinjauan tentang Metode Dialog
embun hati
Strategi penyampaian (delivery strategy) adalah metode untuk mcnyampaikan pembelajaran kepada siswa. Gagne, dkk (1992:32) menyatakan bahwa strategi penyampaian adalah "everything necessary to allow a particular instructional system to operate as it was intended and where it was intended". Strategi penyampaian pembelajaran mencakup lingkungan fisik, guru, bahan pembelajaran, dan kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dalam kaitannya dengan strategi, sumber belajar merupakan suatu komponen yang penting
Sumber belajar dibedakan menjadi enam jenis yaitu: pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar.
1. Pesan/massage/isi adalah informasi yang ditransmisikan atau diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, konsep, prosedur, atau prinsip. Dalam konteks pembelajaran, pesan ini terkait dengan isi bidang studi yang sedang dipelajari
2. Orang adalah semua personil yang terlibat dalam pencarian, pengolahan penyimpanan dan penyaluran pesan. Contohnya adalah guru (guru, dosen, guru, instruktur, tutor), siswa dan lainnya.
3. Bahan adalah barang-barang yang disebut sebagai perangkat lunak (software) yang berisi pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan. Bahan berfungsi menyimpan pesan sebelum disalurkan menggunakan alat yang dirancang. Bahan ini sering disebut sebagai sumber belajar (software) atau perangkat lunak. Contohnya adalah buku, modul, majalah, bahan ajar terprogram, transparansi, film, VCD, atau pita audio.
4. Alat adalah barang-barang yang disebut perangkat keras (hardware), yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan tadi. Contohnya adalah slide film proyektor, LCD, OHP, monitor TV, monitor komputer, kaset recorder, pesawat radio dan lain-lain.
5. Teknik adalah prosedur yang utuh/lengkap atau pedoman langkah-langkah yang disiapkan untuk menyampaikan pesan/isi dengan menggunakan bahan, alat, orang, dan lingkungan belajar secara terkombinasi dan terkoordinasi. Contohnya: belajar mandiri, belajar jarak jauh, belajar secara kclompok, simulasi, diskusi, ccramah, pemecahan masalah, tanya jawab dan sebagainya.
6. Latar atau lingkungan adalah situasi disekitar terjadinya proses pembelajaran. Latar ini dibedakan atas dua jenis yaitu lingkungan yang berbentuk fisik dan non fisik. Contohnya adalah:
a. lingkungan fisik yaitu gedung sekolah, rumah, perpustakaan, laboratorium, studio, ruang rapat, museum, taman, dan sebagainya;
b. lingkungan non fisik yaitu tatanan ruang belajar, sistem ventilasi, tingkat kegaduhan lingkungan belajar, cuaca, dan sebagainya.
Degeng (1997) mengatakan bahwa sumber belajar pembelajaran mencakup semua sumber yang (mungkin) dapat digunakan oleh siswa agar terjadi perilaku belajar. Di sini dapat diartikan bahwa sumber belajar melebihi bidang audio visual tradisional dan menjangkau bidang teknologi pembelajaran masa sekarang dan masa yang akan datang. Membatasi ruang lingkup sumber belajar membawa konsekuensi, membatasi alat yang tersedia bagi pembelajaran. Sebaliknya dengan memandang bahwa semua sumber mempunyai potensi sebagai sumber belajar, akan meningkatkan penggunaan sarana/alat yang tersedia untuk keperluan belajar/pembelajaran
Sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
(1) sumber belajar yang direncanakan (by design), dan
(2) sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) (Miarso, 1994).
Sumber belajar by design yaitu semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional. untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. Sumber belajar by design ini sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar by design ini seperti buku teks, buku ajar, slide, film, video, bahan pembelajaran terprogram, program pembelajaran menggunakan komputer dan sebagainya, yang dirancang dan dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Metode dialog pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Setiap proses interaksi metode dialog selalu dilandasi dengan unsur sebagai berikut :
a. Tujuan yang akan dicapai dari proses dialog tersebut.
b. Adanya guru dan siswa sebagai individu yang terikat dalam proses dialog itu.
c. Adanya bahan dialog sebagai isi dari proses interaksi.
d. Adanya metode dialog sebagai alat untuk menciptakan situasi pembelajaran yang efektif.
“Metode dialog adalah Proses Belajar Mengajar dimana terjadi interaksi antara kegiatan mengajar yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dialog berhubungan dengan cara guru menjelaskan bahan kepada siswa sedangkan belajar mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang disampaikan guru. Oleh karena itu kegiatan belajar erat hubungannya dengan metode mengajar.”
(Nana Sudjana, 1998 : 72)
Awal keberhasilan proses interaksi dialog tergantung pada guru dan siswa itu sendiri sebagai peran utama dalam proses interaksi. Misalnya guru dituntut kesabaran, keuletan, sikap terbuka, disamping kemampuan dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang merangsang siswa untuk belajar. Demikian pula siswa dituntut adanya semangat dan dorongan untuk belajar disamping kemampuan yang dimiliki oleh individu serta sikap siswa itu sendiri.
Prinsip-prinsip interaksi Dialog:
a. Saling mempercayai antara guru dengan siswa. Guru harus mempercayai bahwa siswa adalah individu yang dapat dididik dan mempunyai potensi untuk berkembang.
b. Interaksi Dialog belajar mengajar memerlukan motivasi. Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan belajar.
c. Belajar berarti mengalami yaitu keberhasilan proses interaksi belajar mengajar tergantung bagaimana cara siswa belajar.
Untuk mencapai interaksi metode dialog sudah barang tentu perlu, adanya komunikasi yang jelas antara guru (pengajar) dengan siswa (pelajar), sehingga terpadunya dua kegiatan, yakni dialog (usaha guru) dengan kegiatan belajar (tugas siswa) yang berdaya guna dalam mencapai tujuan metode dialog tersebut.
a. Dialogi sebagai aksi atau komunikasi satu arah.
Dalam dialog ini guru berperan sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai penerima aksi. Guru aktif siswa pasif.
b. Dialog sebagai interkasi dua arah
Pada dialog ini guru dan siswa dapat berperan sama, yakni pemberi aksi dan penerima aksi.
c. Dialog banyak arah atau dialog sebagai transaksi.
Yakni dialog yang tidak hanya melibatkan dinamis antara guru dengan siswa tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Proses Belajar Mengajar dengan pola dialogi ini mengarah kepada proses pengajaran yang mengembangkan kegiatan siswa yang optimal, sehingga menumbuhkan siswa belajar aktif
18.29
Tinjauan Tentang Metode Ceramah
embun hati
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan sacara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Wasty soetmanto (1984: 99), bahwa “belajar merupakan suatau proses, bukan hasil. Oleh karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan sebagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan”. Jadi belajar adalah proses aktif, belajar merupaka proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.
Belajar adalah suatu proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar merupakan proses melihat, mengamati, memahami sesuatu yang dipelajari. Apabila berbicara tentang cara belajar, maka dibicarakan cara mengubah tingkah laku atau individu melalui berbagai pengalaman.
Nana sudjana (1988: 45) membagi belajar kepada tiga sudut pandang, yakni:
(a) melihat belajar sebagai suatu proses
(b) melihat belajar sebagai hasil
(c) melihat belajar sebagai fungsi.
Menurut W.S. Wingkel (1999:61), terdapat tiga jenis belajar, sebagaimana dijelaskan A. De Block, sistematika bentuk belajar adalah sebagai berikut:
(a) Bentuk-bentuk belajar menurut fungsi psikis:
1) Bentuk dinamik/konatif
2) Bentuk afektif.
3) Bentuk kognitif: mengingat, berfikir
4) Belajar senso-motorik: mengamati, bergerak, berkerampilan.
(b) Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari:
1) Belajar teoritis
2) Belajar teknis
3) Belajar sosial atau belajar bermasyarakat
4) Belajar estetis
(c) Bentuk-bentuk belajar yang tidak sebegitu didasari oleh belajar insidental, belajar dengan mencoba-coba dan belajar tersembunyi.
Efektivitas metode ceramah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V pada mata pelajaran fiqih mengandung beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.
Namun demikian, metode ceramah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa juga banyak kelebihannya adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan
18.27
Tinjauan tentang Pembelajaran
embun hati
Pembelajaran diartikan sebagai upaya membelajarkan siswa (Degeng, 1989). Sementara Joice dan Weil (1986) menegaskan bahwa hakikat mengajar atau teaching adalah "membantu para siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan diri, dan cara-cara bagaimana belajar". Dalam kenyataan sesungguhnya, hasil akhir atau tujuan jangka panjang dari proses belajar mengajar adalah "....the student's increased capabilities to learn more easily and effectively in the future...". "Kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif dimasa yang akan datang" (Joice dan Weil, 1986:1). Raka Joni (1980:1) menyebutkan bahwa pembelajaran adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar.
Penciptaan sistem lingkungan berarti menyediakan seperangkat kondisi lingkungan bagi siswa tersebut. Kondisi ini dapat berupa sejumlah tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa, persoalan yang menuntut agar siswa memecahkannya, seperangkat keterampilan yang perlu dikuasai siswa. Termasuk di dalamnya seperangkat kondisi yaitu sejumlah informasi atau pengetahuan atau keterampilan yang perlu dikuasai siswa.
Pembelajaran merupakan perbuatan yang kompleks, oleh karena itu perencanaan maupun pelaksanaannya memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksana. Untuk memutuskan tujuan yang hendak dicapai, guru perlu mempertimbangkan karakteristik anak (Dick & Carey, 1990:82).
Pembelajaran adalah science atau ilmu pengetahuan ilmiah. Di samping itu, pembelajaran juga merupakan seni dan teknologi. Sebagai ilmu, pembelajaran bertolak dari bangunan teori ilmiah yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Oleh karena itu, setiap keputusan tentang tindakan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dapat dipulangkan rasionalitasnya kepada landasan teori yang mendasarinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan untuk melakukan pembelajaran itu dapat dipelajari oleh siapapun yang berminat. Lebih lanjut Davies, (dalam Miarso, 1994) menyatakan bahwa:
The art side of instruction cannot really be tought. It is gained by experience and by learning from the experience. The science side of instruction can be tought, and that is all about. By studying and systematically acquiring the strategies and tactics associated with the science of instruction, almost any one can became a component teacher.
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa sebagai seni, kemampuan melaksanakan pembelajaran dapat bergantung pada bakat bawaan seseorang. Seseorang yang memiliki bakat mengajar siswa, akan cenderung tampak performance/meyakinkan pengajarannya orang itu lebih sempurna; dibandingkan dengan mereka yang kurang berbakat.
Pembelajaran merupakan penerapan yang sistematik dari penerapan desain dan evaluasi proses pembelajaran secara menyeluruh untuk mcncapai tujuan instruksional yang spesifik, berdasarkan pada penelitian teori belajar, komunikasi dan penggunaan secara kombinasi dari berbagai sumber manusia dan non manusia untuk mcmperoleh efektifitas pembelajaran (Commision on Instructional Technology, USA).
Reigeluth dan Merrill (1978) menyatakan ada 3 (tiga) variabel yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran, yaitu:
1. Variabel kondisi pembelajaran, yang meliputi karakteristik siswa, karakteristik bidang studi, kendala pembelajaran, dan tujuan instruksional;
2. Variabel metode pembelajaran, yang meliputi strategi pengorganisasian, strategi pengelolaan, dan strategi penyampaian pembelajaran;
3. Variabel hasil pembelajaran, yang meliputi efektifitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.
Dan banyak konsepsi pembelajaran yang berhasil diformulasikan oleh para ahli, dapat ditarik hal yang substansial bahwa tujuan setiap penyelenggaraan pembelajaran adalah agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. Dengan demikian proses belajar pada hakekatnya adalah proses kognitif berupa reaksi intelektual anak atau individu terhadap suatu kondisi belajar yang merangsangnya. Oleh karena itu, unruk mendorong terciptanya peristiwa belajar pada diri seseorang diperlukan lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang kondusif itu berupa kondisi yang diharapkan dapat menggerakkan atau merangsang beroperasinya mental atau pikiran siswa.
Lingkungan yang kondusif dapat diciptakan dengan menyediakan berbagai sumber belajar yang dapat membuat aktivitas belajar siswa. Aktivitas guru yang berupaya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif agar mental atau pikiran siswa terdorong dan terangsang untuk belajar. Hal itulah yang disebut dengan pembelajaran. Dalam kaitan ini, Gagne (dalam Hanafi dan Manan, 1988:59) mendefinisikan pengajaran (pembelajaran) adalah seperangkat peristiwa eksternal yang diciptakan dan dirancang untuk mendorong, menggiatkan, dan mendukung belajar siswa.
Dalam penyusunan teori belajar dan konsep mengajar dapat dilakukan melalui enam pendekatan berikut:
1. Menghubungkan dan mengintegrasikan hasil-hasil suatu studi dengan hasil studi lainnya yang menggunakan cara dan prosedur yang sama.
2. Mensintesiskan penemuan yang saling berhubungan dengan cara mempelajari beberapa model miniatur yang difokuskan pada penelitian proses atau sub proses belajar.
3. Menghubungkan hasil-hasil penemuan dengan teori-teori yang lebih komprehensif agar diperoleh teori belajar yang komprehensif pula. Teori belajar yang komprehensif minimal termasuk; persepsi, kemampuan dan motivasi.
4. Mewujudkan kesepakatan untuk membangun satu teori yang diterima bersama sebagai kerangka dasar untuk mengembangkan teori belajar yang komprehensif.
5. Berdasarkan pendekatan keempat di atas muncul aliran-aliran dan pandangan belajar yang berbeda sehingga terjadi persaingan satu sama lainnya, menuju kepada teori belajar komprehensif.
6. Pendekatan yang berorientasi kepada penelitian belajar yang terintegrasikan dengan teori ilmu prilaku manusia seperti Sosiologi, Antropologi, Ekonomi dsb.
Keenam pendekatan tersebut terlihat hampir dalam setiap tahap perkembangan sejarah pendidikan yang dimulai pada akhir abad ke-19. Ada empat periode, pengembangan teori belajar dan konsep mengajar yakni:
1. Akhir abad ke-19 yang ditandai dengan timbulnya pendidikan sebagai ilmu.
2. Periode pertama abad ke-20 yang melahirkan beberapa aliran pendidikan yang saling bersaingan.
3. Periode tahun 1930-1950 yang ditandai dengan teori belajar dan konsep mengajar komprehensif.
4. Periode pertengahan abad ke-20 yakni periode yang ditandai dengan banyaknya pedagog mengadopsi pendekatan model miniatur dalam menyusun teorinya.
18.26
Pengertian
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Rasional
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Pemikiran Tentang Belajar
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Hakekat
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
08.40
Apa Itu Cinta?
embun hati
Aku bertanya kepada alam
Apa itu cinta
>>
Dan
Mentari menjawab
Cinta adalah ketulusan memberi tanpa berharap untuk menerima
Memberi kehangatan kepada mereka yang diterjang beku
Memberi terang kepada mereka yang terjebak gelap
Cinta adalah memilah bulir
kejernihan
Dan mengirimnya ke ladang yang tandus
Dan turun menemui dedaunan pagi sebagai bulir sejuk
embun >>
Dan
Pohon menjawab
Cinta adalah jemari kasih yang menghunjam kokoh ke dalam sanubari kehidupan
Cinta adalah keteguhan hati diterpa angin semakin kau
menumbuhkannya
Cinta adalah rindang tempat kau berlindung dari terik perjalanan
Cinta adalah kelapangan jiwa ketika kau mampu memberi
buah kebaikan walau kau dilontar oleh batu keburukan >>
Dan
Angin menjawab
Cinta adalah kekuatan
Yang dapat menghantarkan biduk citamu menuju pantai harapan >>
Dan
Tanah menjawab
Cinta adalah keikhlasan
Ketika saripati kasihmu membuahkan beragam makanan
Tatkala kau diinjak dan diludahi >>
Dan
Samudera menjawab
Cinta adalah sebuah misteri
Kau hanya akan mendapatkan keindahannya
Jika kau benar-benar menyelami ke dasarnya >>
Dan
Lilin menjawab
Cinta adalah pengorbanan
Ketika kau mampu memberikan semua yang terbaik demi terang terpercik
Menuntun mereka untuk mendapatkan titian hidup yang benar >>
Dan
Bunga menjawab
Cinta adalah ketelatenan dalam menumbuhkan,
mengembangkan dan menjaga
Selalu menyiraminya dengan air dan matahari >>
Dan
Ketika semua sisi alam seolah berlomba untuk mengungkapkan
jawabannya
Aku bertanya pada diriku sendiri :
Sudahkah aku mencintai ?
08.35
Cinta...cInta.....ciNta....cinTa....cintA
embun hati
Cinta adalah suatu benda abstrak yang tak bisa didefinisikan. Dia tak tampak oleh mata telanjang, tapi tampak oleh mata yang mengandung cinta juga. Cinta adalah rasa rindu yang menggebu untuk selalu ingin bertemu dengan orang itu, selalu ingin mendengar suaranya, selalu inginn dekat dengannya, selalu ingin menatap wajahnya, selalu ingin segalanya...
Cinta sebenarnya anugrah..., dia menjadi fitrah dan normal bagi makhluk bernama manusia. tapi, bukan berarti cinta itu fitrah, lantas bisa dituruti seenaknya saja. Apalagi cinta itu sudah diboncengi oleh nafsu. Cinta dan nafsu bagaikan saudara kembar yang berbeda karakter. sulit sekali dibedakan dalam perasaan pemiliknya...
Secara mudahnya adalah begini... Ketika kita menaruh hati kepada seseorang, lalu kita menahannya hingga saat yang tepat untuk menyatakannya, maka itulah cinta. Cinta memiliki karakter yang melindungi. Dia tidak ingin membuat obyek yang dicintainya itu celaka. Dia akan selalu menjaga kehormatan pemilik cinta itu sendiri dan orang yang dicintainya. Cinta akan selalu setia pada satu orang saja. Dalam masa "menahan cinta" itu, si cinta akan terus ada dan berkemampuan merubah diri si pemiliknya. bisa menjadi positiv, dan juga negativ. Yang jelek bisa jadi baik, yang baik bisa jadi jelek. Tergantung pada orang-orang yang ia temani, pendidikan orang tuanya, keyakinannya dan keagamaannya, serta pertahanannya dari saudara kembar cinta...yaitu NAFSU.
Nafsu sangat mirip dengan cinta. sayangnya, karakter mereka sangat berbeda. kalau dalam masa percintaan, kalian merasa ingin memeluk orang yang kalian cintai, menciumnya mesra, memegang-megang anggota tubuhnya, selalu berduaan saja dengannya, bahkan sampai-sampai ingin bersetubuh dengannya dan dorongan itu begitu kuatnya hingga hampir kalian kalah...maka itulah nafsu. nafsu selalu bersifat mesum. dia hanya menggambarkan kenikmatan-kenikmatan sesaat tanpa pikir panjang. nafsu bersifat mencelakai si pemilik cinta dan orang yang dicintai. dan efeknya pasti jelek...
Jadi, buktikan cintamu dengan cinta, bukan dengan nafsu... Tunggu saat yang tepat...jangan gegabah... semua akan indah ketika sudah tiba waktunya... jangan terburu-buru. menangkan cinta dalam hatimu, jangan nafsu.... nafsu menghancurkan dan cinta membangun keindahan..
Satu lagi sifat cinta dan nafsu. cinta bersifat permanen, nafsu bersifat sesaat...Nah, kalau cinta dan nafsu bercampur...maka sifatnya adalah seolah-olah kau akan mencintainya selamanya, namun ternyata belum sampai selamanya, kau sudah goyah dan ingin mencintai orang yang lain lagi..........
jangan sembarangan mengucapkan cinta...karena bisa saja yang maju saat itu adalah nafsumu...
Aku adl salah satu manusia yang sedang jatuh cinta juga....andai cinta bisa bicara...pastilah aku menderita...karena berarti cintaku ini akan bicara pada orang yang aku cintai itu... padahal kurasa saat ini sangat belum tepat untukku menyatakannya. Alhamdulillah beberapa kali nafsu membentrok cinta dengan kekuatan yg cukup dahsyat, namun cinta selalu bisa menghalaunya. cintaku InsyaAllah bisa menjaga kesuciannya sampai kapanpun....
Aku termasuk orang yang bertemu banyak orang...selalu ada orang baru yang berusaha mengusik cintaku padanya. Aku juga ingin bereksperimen mencintai orang lain selain dia. Tapi ternyata selalu gagal. Aku gagal mencintai orang lain... Hingga saat ini, cintaku masih unggul untuknya.... nafsu, maaf ya....saudara kembarmu nampaknya lebih unggul darimu....
Yang ingin kuberikan padanya hanyalah CINTA. bukan NAFSU. Dan aku tidak mengharap apa-apa darinya. Aku mencintainya tanpa syarat. Aku mencintainya karena aku berharap aku dan dia bisa bersama-sama menuju-Nya. Aku memiliki apa yang dia tidak miliki. dan dia memiliki apa yang aku tidak miliki... Ya Alloh....Labuhkanlah cintaku padanya...Engkaulah Dzat Yang Mahakuasa...Engkau Mahabisa, Engkau bisa melakukan apa yang Kau mau, Ya Allah...
I DON'T WANT TO MISS A THING (Aerosmith)
I could stay awake just to hear you breathing,
Watch you smile while you are sleeping,
While you are far away and dreaming,
I could spend my life in this sweet surrender,
I could stay lost in this moment forever,
Where a moment spent with you is a moment I treasure,
I don't want to close my eyes, I don't want to fall asleep,
Cause I miss you baby, And I don't want to miss a thing,
Cause even when I dream of you, the sweetest dream will never do,
I still miss you baby and I don't want to miss a thing
Lying close to you feeling your heart beating,
And I wondering what you are dreaming,
Wondering if it's me you are seeing,
Then I kiss your eyes and thank god we're together,
I just want to stay with you in this moment forever and forever forever
And I don't want to miss one smile,
I don't want to miss one kiss,
I just want to be with you right here with you,
Just like this, I just want to hold you close,
I feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment,
For all of the rest of time
17.10
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR GEOGRAFI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION KELAS XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI - MOJOKERTO
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampai sekarang pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan di benak mereka sendiri. Dalam proses belajar, anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Melalui proses belajar yang mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti bermain, maka anak menjadi senang, sehingga tumbuhlah minat untuk belajar, khususnya belajar Geografi.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah model pembelajaran group Investigation (menemukan secara berkelompok) dapat meningkatkan minat belajar Geografi bagi siswa ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah agar siswa meningkatkan minatnya dalam belajar Geografi; sehingga siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap yang positif.
1.4 Manfaat Dan Hasil Penelitian
a. Siswa : Siswa termotivasi sehingga senang belajar Geografi dan dapat memperoleh pengalaman belajar.
b. Guru : Dapat menambah wawasan tentang strategi pembelajaran.
c. Sekolah : Untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
d. Pengembangan Kurikulum : Merupakan upaya penyempurnaan Kurikulum
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN
2.1 Minat
Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami; Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan.
Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif. Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara berkelompok.
2.2 Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik Pemar : 2001)
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Karena belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, maka diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa.
Suasana kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskansiswa itu salah satunya dapat tercipta melalui model pembelajaran Group Investigation.
2.3 Model Pembelajaran Group Investigation (Sharan, 1992)
Model adalah representasi realitas yang disajikan dengan suatu derajat struktur dan urutan ( Richey, 1986 ). Group investigation adalah penemuan yang dilakukan secara berkelompok: murid/ siswa secara berkelompok mengalami dan melakukan percobaan dengan aktif yang memungkinkannya menemukan prinsip.
Langkah-langkah pembelajaran Group Investigation :
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c. Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi
d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
e. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
f. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
g. Evaluasi
h. Penutup
Model pembelajaran Group Investigation ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan model pembelajaran ini minat belajar siswa meningkat dan hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Setting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini dilaksanakan di kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI yang berlokasi di Jalan Pahlawan No. 52 Mojosari Mojokerto. Jumlah siswa 17 orang, dengan latar belakang sosial ekonomi yang heterogen.
3.2 Persiapan Penelitian
Untuk memperlancar pelaksanan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, kami telah mempersipkan instrumen dan penilaian.
3.3 Siklus Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini menggunakan dua kali siklus, yaitu
Siklus pertama yang meliputi :
A. Pendahuluan
Mempersiapakan konsep materi yang akan dijadikan bahan pembelajaran yaitu :
KD : Memprediksi dinamika perubahan atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi.
Indikator : Menganalisa dinamika unsur-unsur cuaca.
B. Langkah Utama
1). Guru membagi siswa dalam 4 kelompok
2). Guru menjelaskan maksud pembelajaran yaitu mengamati unsur unsur cuaca secara berkelompok.
3). Guru memanggil ketua kelompok dan masing-masing diberi tugas mengamati : intensitas sinar matahari, mengukur suhu udara,
mengamati arah dan kecepatan angin, awan dan kelembaban udara di luar kelas.
4). Masing-masing kelompok mengamati dan mendiskusikan materi sesuai dengan tugasnya secara kelompok.
5). Setelah selesai diskusi, ketua kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok.
C. Langkah Penutup
Guru memberikan penilaian kepada kelompok-kelompok siswa yang melakukan pengamatan dan diskusi itu.
Siklus kedua menunggu refleksi siklus ke-1
3.4 Pembentukan Instrumen
Untuk mendapatkan data yang valid dan akurat dari siswa, guru / kolaborator meneliti menggunakan instrumen berupa :
a. Catatan yang meliputi “ Persiapan, pelaksanaan dan penelitian “
b. Lembar evaluasi
c. Lembar Observasi
d. Angket
3.5 Analisa Dan Refleksi
Data yang dicatat tiap langkah meliputi :
a. Data hasil pemahaman materi belajar
b. Data hasil minat belajar dalam melaksanakan tugas mengamati cuaca dan diskusi
Data di atas dianalisis secara berkala setiap langkah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil yang sebenarnya berdasarkan tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang hendak dicapai.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Model pembelajaran Group Investigation ini masih asing bagi siswa kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI, karena belum pernah . Tahap awal praktek peneliti agak banyak menjelaskan pada siswa tentang cara belajar di lapangan untuk memperoleh pengalaman belajar; seperti bagaiman menggunakan alat-alat, bagaimana mencatat hasil penelitian, membuat kesimpulan, berdiskusi dan menyampaikan hasil pembahasan (mempresentasikan). SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI belum mempunyai laboratorium yang memadai, sehingga siswa kurang diadakn praktikum. Setelah siswa dianggap cukup untuk memahami model pembelajaran Group Investigation, selanjutnya pembelajaran diberikan pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan berikutnya (2 jam pelajaran)
1). Disajikan dan dijabarkan KD hingga siswa memahami akan apa yang akan dipelajari
2). Menginterpretasikan materi pelajaran yang akan dijabarkan.
3). Menata indikator sesuai dengan kelompok-kelompoknya.
4). Membentuk kelompok
5). Memonitor seluruh tugas siswa
6). Mendiagnose kesulitan siswa
7). Melakukan penilaian
Angket siswa terhadap pelajaran Geografi
ª Dberikan sebelum memulai pembelajaran.
Hasilnya : Kurang berminat
ª Observasi aktivitas guru dalam perencanaan sangat baik, sedangkan dalam
pelaksanaan diperoleh hasil baik
ª Observasi minat siswa dalam belajar diperoleh hasil cukup baik.
Refleksi I
Dari data observasi minat siswa dalam belajar Geografi diperoleh hasil cukup
baik, hal ini disebabkan karena dalam membuat laporan dan mempresentasikan
hasil penemuannya kurang terbiasa.
Refleksi II
Dari data observasi minat siswa diperoleh hasil baik, hal ini karena siswa sudah
lancar dan mulai senang.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI dengan menggunkan metode pembelajaran Group Investigation ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Pada siklus pertama belum bisa mencapai hasil seperti yang diharapkan, karena siswa masih belum terbiasa. Setelah ada motivasi maka pada pelaksanaan siklus kedua ada
perubahan yang sangat berarti ke arah yang sangat baik. Siswa sudah menunjukkan peningkatan minat dalam belajar Geografi.
5.2 Saran
Sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang berkaitan dengan usaha peningkatan minat belajar bagi siswa sebaiknya menerapkan model pembelajaran Group Investigation.
Filed under: makalah ptk | Tagged: group investigasi, makalah ptk, mata pelajaran geografi, minat belajar, motivasi belajar, Penelitian Tindakan Kelas, ptk guru, siswa sma
« Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Ipa Fisika Melalui Pembelajaran Berbasis Demokrasi Dengan Membentuk Dynamic Group Pada Siswa Kelas Viid Smp Negeri 1 Pare Tahun Pelajaran 2005/2006 Karya Tulis Ilmiah dan Pengembangan Profesi Guru »
17.02
Asal-Usul Perkembangan Virus Komputer
embun hati
Virus yang pertama kali muncul di dunia ini bernama [Elk Cloner] lahir kira-kira tahun 1981 di TEXAS A&M. Menyebar melalui disket Apple II yang ada operating systemnya. Sang perusak ini mendisplay pesan di layar : “It will get on all your disks-It will infiltrate your chips–yes it is Cloner!-It will stick to you like glue-It will modify RAM too-send in the Cloner!” Hi……………….
Nama “Virus” itu sendiiri baru diberkan setelah 2 tahun kelahirannya oleh Len Adleman pada 3 November 1983 dalam sebuah seminar yang ngebahas cara membuat virus and memproteksi diri dari virus. Tapi orang-orangorang sering menganggap bahwa virus yang pertama kali muncul adalah virus [Brain] yang justru lahir tahun 1986. Wajar aja, soalnya virus ini yang paling menggemparkan dan paling meluas penyebarannya karean menjalar melalui disket DOS yang waktu itu lagi ngetrend. Lahirnya juga bersamaan dengan [PC-Write Trojan] dan [Vindent]
Mulai saat itu, `virus mulai menguasai dunia. Perkembangannya mengerikan dan sangar banget ! berselang satu tahun muncul virus pertama yang menginfeksi file. Biasanya yang diserang adalah file yang berekstensi *.exe Virus ini bernama [suriv] termasuk dalam golongan virus “jerussalem”. Kecepatan penyebarannya cukup ‘menggetarkan hati’ untuk saat itu. Tapi virus ini ngga’ terlalu jahat ko’ soalnya virus ini menghantam dan menghajar mainframe-nya IBM ngga’ lama-lama, cuma setahun (eh setahun itu lama apa sebentar ya…?)
Tahun 1988, muncul serangan BESAR terhadap Machintosh oleh virus [MacMag] dan [scores] dan jaringan Internet dihajar habis-habisan oleh virus buatan Robert Morris. Tahun 1989 ada orang iseng yang ngirim file “AIDS information program” dan celakanya, begitu file ini dibuka, yang didapat bukannya info tentang AIDS, tapi virus yang mengenskrypsi harddisk dan meminta bayaran untuk kode pembukanya (hehehe…….. ada-ada aja cara orang nyari duit)
Sejak saat itu, penyebaran virus udah ngga’ keitung lagi. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan ngga’ terlalu besar. Baru tahun 1995 muncul serangan besar-besaran. Ngga’ tanggung-tanggung, mereka nyerang perusahaan-perusahaan besar diantaranya Griffith Air Force Base, Korean Atomic Research Institute, NASA, IBM dan masih banyak PERUSAHAAN RAKSASA lain yang dianiaya oleh “INETRNET LIBERATION FRONT” di hari ~Thanksgiving~. Karena keberanian dan kedahsyatan serangan itu, tahun 1995 dijuluki sebagai tahunnya para Hacker dan Cracker.
Para Cracker memang tidak pernah puas. Setiap muncul sistem operasi atau program baru, mereka sudah siap dengan virus barunya. Kamu yang sering ngetik dengan MS Word mungkin pernah nemuin virus Titassic. Ini virus local asli Indonesia lho… and uniknya, virus ini ngingetin kita buat sholat tepat pada waktunya (waduh, alim juga ya..) Tapi jangan salah, virus macro yang punya judul [concept]ini juga bisa berhati jahat, sangar and ganas banget. Soalnya si alim yang jahat ini bakalan ngemusnahin 80% file-file data and program korbannya.
Nah, seiring dengan perkembangan teknologi, muncul virus pertama yang mengkombinasi virus macro dan worm. Namanya cukup manis [Melissa]. Tapi ngga’ semanis namanya, virus ini bakalan menyebar ke orang lain lewat E-Mail and yang paling menyakitkan, ia bakalan nyebar ke semua alamat E-Mail yang ada di address book-mu. Dan saat ini muncul jutaan virus yang bergentayangan ngga’ karuan di alam Internet.
16.59
Walaupun masih sering disebut sebagai PC (Personal Computer), sejatinya komputer saat ini bukan lagi sesuatu yang personal. Jutaan bahkan milyaran komputer di muka bumi ini saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. Internet, intranet, media penyimpanan, adalah beberapa diantara media atau sarana penghubung tersebut.
Dengan semakin eratnya hubungan antar komputer, maka permasalahan baru pun muncul. Penyebaran makhluk yang bernama virus komputer pun menjadi lebih mudah. Saat ini, sebuah virus sudah dapat menyebarkan dirinya ke seluruh jaringan komputer yang ada di muka bumi hanya dalam hitungan beberapa detik.
Untuk mengantisipasi serangan virus, berikut saya tuliskan 10 langkah antisipasi yang bisa anda lakukan untuk mencegah komputer anda terinfeksi makhluk manis yang bernama virus.
Gunakanlah program antivirus yang bagus. Sekarang ini terdapat puluhan program antivirus yang dapat di gunakan. Ada yang dibagikan secara gratis, ada pula yang berbayar. Setiap program antivirus mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing. Untuk mengetahui antivirus mana yang bagus, anda bisa membaca review atau tulisan tentang antivirus tersebut di internet atau majalah komputer. Baca pula pengalaman orang orang yang telah menggunakan antivirus tersebut.
Ingatlah selalu untuk menjalankan program antivirus tersebut setiap anda menggunakan komputer. Pastikan antivirus yang anda gunakan memberikan perlindungan secara terus menerus termasuk perlindungan terhadap email masuk dan keluar. Hentikan kebiasaan menjalankan antivirus bila diperlukan saja karena anda tidak akan selalu tahu kapan suatu virus akan menyerang.
Pastikan program antivirus yang anda gunakan selalu dalam keadaan ter-update. Update database virus biasanya diberikan secara cuma cuma oleh pembuat program antivirus. Bila anda tidak ingin lupa melakukan update antivirus, jalankan saja fitur update terjadual yang tersedia pada program antivirus. Setiap hari tercipta ratusan virus baru, sehingga melakukan update secara rutin sudah menjadi suatu keharusan.
Pastikan sistem operasi yang anda gunakan selalu dalam keadaan ter-update. Semakin hari, semakin sering kita mendengar adanya lubang keamanan dari suatu sistem operasi. Lubang keamanan ini sering dimanfaatkan oleh virus untuk masuk dan merusak sistem komputer anda. Hal itulah yang menyebabkan mengapa sistem operasi harus selalu dalam keadaan ter-update. Disamping mengamankan dari serangan virus, melakukan update sistem operasi juga akan membuat komputer anda berjalan selalu dalam keadaan stabil. Update harus juga dilakukan untuk program lain yang terpasang di komputer anda karena mereka juga bisa menjadi celah bagi masuknya virus.
Lakukanlah backup data secara rutin. Hal ini untuk mencegah anda kehilangan data penting apabila komputer anda terinfeksi virus.
Jika anda sering menggunakan disket, USB Flash Disk, Harddisk external, pada komputer yang dipakai oleh banyak orang, ingatlah selalu untuk melakukan scanning antivirus pada media penyimpanan tersebut sebelum anda menjalankannya pada komputer anda. Selalulah beranggapan bahwa komputer yang digunakan banyak orang adalah komputer yang terinfeksi virus sehingga anda bisa lebih waspada. Selain itu, anda juga bisa menonaktifkan fungsi autorun untuk media media penyimpanan tersebut pada komputer anda. Hal ini memudahkan anda melakukan scanning manual sebelum komputer menjalankan program yang ada pada media penyimpanan tersebut.
Waspadalah terhadap lampiran/attachments email. Sampai saat ini, lampiran email merupakan sarana yang paling disukai oleh pembuat virus untuk menyebarkan virus buatannya. Disamping mudah menipu penerima email, penyebaran via lampiran email juga berlangsung sangat cepat. Jangan pernah membuka suatu lampiran email sebelum melakukan scanning dengan program antivirus walau email tersebut datang dari sahabat karib anda. Beberapa virus komputer akan menyebarkan dirinya melalui alamat email yang ada pada daftar kontak korbannya. Hal ini tentu tanpa sepengetahuan pemilik komputer.
Gunakan email berbasis teks dalam ber-email. Menggunakan email berformat html sangat disukai oleh banyak orang karena email jenis ini tampak lebih indah dan mudah dikustomisasi tampilannya. Sayangnya, email jenis ini juga disukai oleh virus untuk menyebarkan diri. Virus dapat menempel pada kode kode html yang ada pada body email, jadi anda bisa terinfeksi hanya dengan membuka email tersebut. Sementara itu, pada email yang berbasis teks, virus hanya dapat menempel pada lampiran saja.
Berhati hatilah dalam mengunduh program gratisan yang banyak dijajakan di dunia maya. Selalulah mengunduh dari situs yang terpercaya berdasarkan review banyak orang. Lakukan scanning installer program tersebut sebelum dipasang di komputer.
Hati hati terhadap taut atau link yang disebar via program messenger. Jangan pernah menerima undangan untuk berkunjung ke suatu situs dari orang yang tidak begitu anda kenal. Bisa jadi orang tersebut akan mengarahkan anda ke suatu situs yang banyak mengandung virus. Hati hati pula dalam melakukan surfing ke alamat alamat web yang tidak jelas isinya. Virus juga dapat menyisip pada kode kode html suatu situs sehingga anda bisa terkena virus bila berkunjung suatu web yang bervirus.
15.38
Bagaimana Anda mengevaluasi kebutuhan dan falsafah manajemen sumber daya manusia di organisasi Anda? Tantangan manajemen adalah untuk meningkatkan efektivitas manajemen sumber daya manusia. Setiap orang ingin dan akan terus cenderung ke arah organisasi, yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk terlibat dengan keberhasilan perusahaan tempatnya bekerja.
Hal tersebut termasuk kebebasan untuk tumbuh dalam pekerjaan mereka, kesempatan untuk berperan serta dalam proses pembuatan keputusan, serta suatu suasana kepercayaan dan komunikasi terbuka, yang ditunjang oleh kemauan manajemen untuk berhubungan dengan kepentingan mereka ini.
Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, tentang sumber daya manusia, maka secara umum bisa disimpulkan; bahwa Manusia adalah Kunci Keberhasilan Suatu Organisasi, dalam pembahasan ini maksud Organisasi adalah Perusahaan. Jika sebuah perusahaan menciptakan suatu lingkungan, dimana para pegawai dapat mencapai sasaran perusahaan dan sasaran pribadi secara serentak, maka efisiensi, loyalitas, dan antusiasme kerja pastilah tinggi.
Secara singkat, bisa dikatakan, bahwa motivasi dan efektivitas pegawai ditentukan oleh cara dimana pegawai tersebut dipimpin. Dan, semua itu erat kaitannya dengan kemampuan manajemen sumber daya manusia. Pihak owner maupun manajemen perusahaan harus memiliki sensitivitas disiplin manajemen sumber daya manusia.
Ada korelasi yang kuat antara efektivitas manajemen seseorang, dengan ketrampilan manajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia memberikan arah kepada manajemen organisasi untuk memenuhi sasaran organisasi maupun kebutuhan pegawai. Dan, selalu terbukti, bahwa satu metode untuk mencapai efektivitas manusia adalah DISIPLIN.
Hal tersebut bisa diukur dari standar prestasi tertentu, yang telah ditetapkan oleh organisasi. Oleh karena itu, salah satu kunci penting dari kegagalan atau keberhasilan suatu organisasi adalah DISIPLIN. Disiplin ini sebagai suatu cara untuk memberikan pelatihan, yang ditujukan untuk mencapai pertumbuhan individu di dalam organisasi. Pengakuan kepada atribut-atribut pegawai, seperti integritas, bekerja keras, dan keinginan untuk memikul tanggung jawab agar dapat dicapai dan berhasil adalah sangat penting! Untuk memenuhi sasaran perusahaan, manajemen harus rajin mengejar disiplin. Semua organisasi harus mencapai sasaran-sasaran tertentu untuk keuntungan dan keabadiannya sendiri.
Manajemen sumber daya manusia semestinya harus memiliki ketrampilan manajemen dan “alat-alat perkakas”, yang bisa dikonotasikan atau diibaratkan dengan kelengkapan perkakas dan ketrampilan seorang dokter yang sedang melakukan operasi pada pasiennya. Oleh sebab itu, jika tanpa program, peraturan, dan sumber-sumber, maka manajemen sumber daya manusia tidak akan efektif.
Untuk memimpin program sumber daya manusia, diperlukan ketrampilan-ketrampilan khusus dalam membuat rancangan, pengembangan, pelaksanaan, dan perawatan program-program atau “perkakas” manajemen yang perlu. Beberapa fungsi manajemen, yang perlu Anda ketahui saya tuliskan di bawah ini:
Perumusan peraturan. Memberikan peraturan sumber daya manusia, mengenai rencana-rencana tindakan, dan memastikan kepatuhan pada peraturan pemerintah.
Hubungan perburuhan. Berkaitan dengan program komunikasi, memelihara lingkungan kerja yang efektif, administrasi keluhan dan hubungan perburuhan, serta penilaian prestasi kerja dan survey sikap.
Perencanaan organisasi. Membentuk struktur yang tepat, rentang manajemen, tingkat-tingkat organisasi, sistem manajemen (perencanaan, penetapan sasaran, perencanaan tindakan dan peninjauan berkala), rencana jangka panjang dan pengembangan strategi menajemen.
Pelatihan dan pengembangan. Ini dibuat dari penilaian kebutuhan organisasi dalam bidang-bidang seperti orientasi pegawai, pengembangan teknik, ketrampilan manajemen (teknik, manusia, pengonsepan), program-program on-the-job, dan penjenjangan karier (menentukan kesempatan-kesempatan pertumbuhan pribadi, seperti pemberian jabatan pekerjaan).
Administrasi pengupahan. Ini memuat administrasi pengupahan atau penggajian, serta evaluasi kerja (menentukan nilai-nilai pekerjaan atau jabatan), dan rencana pengupahan (komisi penjualan, dan bonus insentif manajemen).
Tunjangan dan jasa pegawai. Memuat kompensasi pekerja, keamanan sosial, asuransi kelompok, pembayaran untuk waktu tidak bekerja, bonus pegawai, penghasilan tambahan dan jasa-jasa pegawai (program-program sosial dan rekreasi).
Perencanaan khusus. Melibatkan penentuan sumber-sumber untuk merekrut orang (kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang), kebutuhan penempatan pegawai dari dalam dan dari luar organisasi (biaya untuk penempatan pegawai), seleksi sebelum pengangkatan, wawancara dan pengujian (teknik-teknik, bakat, seleksi pengujian ketrampilan dan kejiwaan), dan sistem penyimpanan data pegawai.
Keselamatan dan kesehatan. Ini berhubungan dengan pemberian lingkungan kerja yang aman dan sehat, melalui pembentukan program-program pencegahan kecelakaan (analisis penyebab kecelakaan), administrasi kompensasi pekerja, penilaian fisik sebelum pengangkatan, dan program-program kesehatan pegawai lainnya (asuransi kesehatan).
Manajemen sumber daya manusia yang baik harus memberikan arah dalam memenuhi sasaran-sasaran organisasi, dan pada saat yang sama juga memenuhi kebutuhan pegawai tersebut. Ingatlah, efektivitas orang adalah kunci keberhasilan suatu organisasi.
Oleh karena itu, manajemen harus maju ke depan dengan cara-cara lebih inovatif dan produktif untuk memimpin manusia; sehingga mendapatkan manfaat optimum, yang harus direalisasikan dari pegawai dalam bentuk prestasi kerja efisien, loyalitas, produktivitas lebih tinggi, pendekatan kreatif, dan antusiasme kerja.
20.07
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
embun hati
Proses Dasar Penelitian Tindakan
Seperti telah diuraikan sebelumnya, PTK bersifat partisipatori dan kolaboratif, yang dilakukan karena ada kepedulian bersama terhadap situasi pembelajaran kelas yang perlu ditingkatkan. Anda bersama pihak-pihak (sejawat, murid, KS) mengungkapkan kepedulian akan peningkatan situasi tersebut, saling menjajagi apa yang dipikirkan, dan bersama-sama berusaha mencari cara untuk meningkatkan situasi pembelajaran. Anda bersama kolaborator (sejawat yang berkomitmen) menentukan fokus strategi peningkatannya. Singkatnya, Anda secara bersama-sama (1) menyusun rencana tindakan bersama-sama, (2) bertindak dan (3) mengamati secara individual dan bersama-sama dan (4) melakukan refleksi bersama-sama pula. Kemudian, Anda bersama-sama merumuskan kembali rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan lebih kritis. Itulah empat aspek pokok dalam penelitian tindakan (Kemmis dkk, 1982; Burns, 1999), yang selanjutnya diuraikan di bawah ini.
1. Penyusunan Rencana
Rencana PTK merupakan tindakan pembelajaran kelas yang tersusun, dan dari segi definisi harus prospektif atau memandang ke depan pada tindakan dengan memperhitungkan peristiwa-peristiwa tak terduga sehngga mengandung sedikit resiko. Maka rencan mesti cukup fleksibel agar dapat diadaptasikan dengan pengaruh yang tak dapat terduga dan kendala yang sebelumnya tidak terlihat. Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan dengan dua pengertian. Pertama, tindakan kelas mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan dinamika kehidupan kelas dan mengakui adanya kendala nyata, baik yang bersifat material namun bersifat non-meterial dalam kelas Anda. Kedua, tindakan-tindakan pilih karena memungkinkan para Anda untuk bertindak secara lebih efektif dalam tahapan-tahapan pembelajaran, secara lebih bijaksana dalam memperlakukan murid, dan cermat dalam mengamati kebutuhan dan perkembangan belajar murid.
Pada prinsipnya, tindakan yang Anda rencanakan hendaknya (1) membantu Anda sendiri dalam (a) mengatasi kendala pembelajaran kelas, (b) bertindak secara lebih tepat-guna dalam kelas Anda, dan (c) meningkatkan keberhasilan pembelajaran kelas; dan (2) membantu Anda menyadari potensi baru Anda untuk melakukan tindakan guna meningkatkan kualitas kerja. Dalam proses perencanaan, Anda harus berkolaborasi dengan sejawat melalui diskusi untuk mengembangkan bahasa yang akan dipakai dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan Anda dalam kelas.
Rencana PTK Anda hendaknya disusun berdasarkan hasil pengamatan awal refleksif terhadap pembelajaran kelas Anda. Misalnya, jika Anda adalah guru bahasa Inggris, Anda akan melakukan pengamatan terhadap situasi pembelajaran kelas Anda dalam konteks situasi sekolah secara umum dan mendeskripsikan hasil pengamatan. Dari sini akan mendapatkan gambaran umum tentang masalah yang ada. Lalu Anda meminta seorang guru bahasa Inggris lain sebagai kolaborator untuk melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang Anda selenggarakan di kelas Anda; selama mengamati, kolaborator memusatkan perhatiannya pada perilaku Anda sebagai guru dalam upaya membantu murid belajar bahasa Inggris, dan perilaku murid selama proses pembelajaran berlangsung, serta suasana pembelajarannya. Misalnya, hal-hal yang dicatat meliputi: (1) bagaimana guru melibatkan murid-muridnya dari awal (ketika membuka pelajaran); (2) bagaimana guru membantu murid-muridnya (a) memahami isi atau pesan teks, (b) memahami cara mengungkapkan makna sejenis (cara menyusun kalimat, cara mengeja kata, cara melafalkan kata yang digunakan untuk makna tersebut), (c) belajar berkomunikasi dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang telah dipelajari, (d) membantu murid-muridnya yang mengalami kesulitan atau yang pasif, (3) bagaimana guru mengelola kelas, yaitu dalam mengatur tempat duduk, mengontrol penerangan, mengatur suaranya, mengatur pemberian giliran, mengatur kegiatan; (4) bagaimana guru berpakaian, (5) bagaimana murid menanggapi upaya-upaya guru, (6) sejauh mana murid aktif memproduksi bahasa Inggris, dan (7) hal-hal lain yang secara teoretis perlu dicatat, serta (8) suasana kelas. Hasil pengamatan awal terhadap proses tersebut dituangkan dalam bentuk catatan-catatan lapangan lengkap (cuplikannya dapat disajikan dalam laporan dalam bentuk vignette), yang menggambarkan dengan jelas cuplikan/episode proses pembelajaran dalam situasi nyata.
Kemudian, Anda bersama kolaborator memeriksa catatan-catatan lapangan sebagai data awal secara cermat untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dan aspek-aspek apa yang perlu ditingkatkan untuk memecahkan masalah praktis tersebut. Berdasarkan hasil kesepakatan terhadap pencermatan data awal, dan dipadukan dengan ketersediaan sumber daya, baik manusia maupun non-manusia, Anda bersama kolaborator menyusun rencana tindakan, sebagai penuntun pelaksanaan tindakannya.
Rencana tindakan Anda perlu dilengkapi dengan pernyataan tentang indikator-indikator peningkatan yang akan dicapai. Misalnya, indikator untuk peningkatan keterlibatan murid adalah peningkatan jumlah murid yang melakukan sesuatu dalam pembelajaran nahasa Inggris, seperti bertanya, mengusulkan pendapat, mengungkapkan kesetujuan, mengungkapkan kesenangan, mengungkapkan penolakan dan sebagainya dalam bahasa Inggris; sedangkan indikator untuk produksi bahasa Inggris adalah peningkatan jumlah ungkapan (kata/frasa/kalimat) bahasa Inggris yang diproduksi oleh murid. Disamping itu, perlu juga indikator kualitatif, misalnya peningkatan keakuratan (lafal dan tatabahasa) dan kelancaran bahasa Inggris murid dengan deskriptor di masing-masing tingkatan.
Kebersamaan Anda dan kolaborator dalam mengumpulkan data awal, lalu mencermatinya untuk mengidentikasi masalah-masalah yang ada dan menentukan tindakan untuk mengatasinya, serta menyusun rencana tindakan, telah memenuhi tuntutan validitas demokratik.
Pelaksanaan Tindakan
Tindakan hendaknya dituntun oleh rencana yang telah dibuat, tetapi perlu diingat bahwa tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana, mengingat dinamikan proses pembelajaran di kelas Anda, yang menuntut penyesuaian. Oleh karena itu, Anda perlu bersikap fleksibel dan siap mengubah rencana tindakan sesuai dengan keadaan yang ada. Semua perubahan/penyesuaian yang terjadi perlu dicatat karena kelak harus dilaporkan.
Pelaksanaan rencana tindakan memiliki karakter perjuangan materiil, sosial, dan politis ke arah perbaikan. Mungkin negosiasi dan kompromi diperlukan, tetapi kompromi harus juga dilihat dalam konteks strateginya. Nilai tambah taraf sedang mungkin cukup untuk sementara waktu, dan nilai tambah ini kemudian mendasari tindakan berikutnya.
Observasi
Observasi tindakan di kelas Anda berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan bersama prosesnya. Observasi itu berorientasi ke depan, tetapi memberikan dasar bagi refleksi sekarang, lebih-lebih lagi ketika putaran atau siklus terkait masih berlangsung. Perlu dijaga agar observasi: (1) direncanakan agar (a) ada dokumen sebagai dasar refleksi berikutnya dan (b) fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga; (2) dilakukan secara cermat karena tindakan Anda di kelas selalu akan dibatasi oleh kendala realitas kelas yang dinamis, diwarnai dengan hal-hal tak terduga; (3) bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.
Apa yang diamati dalam PTK adalah (1) proses tindakannya, (b) pengaruh tindakan (yang disengaja dan tak sengaja), (c) keadaan dan kendala tindakan, (d) bagaimana keadaan dan kendala tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan pengaruhnya, dan (e) persoalan lain yang timbul.
Refleksi
Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat refleksi Anda berusaha (1) memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategik, dengan mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelejaran kelas, dan (2) memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajan dilaksanakan. Dalam melakukan refleksi, Anda sebaiknya juga berdiskusi dengan sejawat Anda, untuk menghasilkan rekonstruksi makna situasi pembelajaran kelas Anda dan memberikan dasar perbaikan rencana siklus berikutnya. Refleksi memiliki aspek evaluatif; dalam melakukan refleksi, Anda hendaknya menimbang-nimbang pengalaman menyelenggarakan pembelajaran di kelas, untuk menilai apakah pengaruh (persoalan yang timbul) memang diinginkan, dan memberikan saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Tetapi dalam pengertian bahwa refleksi itu deskriptif, Anda meninjau ulang, mengembangkan gambaran agar lebih lebih hidup (a) tentang proses pembelajaran kelas Anda, (b) tentang kendala yang dihadapi dalam melakukan tindakan di kelas, dan, yang lebih penting lagi, (c) tentang apa yang sekarang mungkin dilakukan untuk para siswa Anda agar mencapai tujuan perbaikan pembelajaran.
PTK Anda merupakan proses dinamis, dengan empat momen dalam spiral perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses dasar tersebut dapat diringkas sebagai berikut (Kemmis dkk. (1982). Dalam praktik, proses PTK Anda mulai dengan ide umum bahwa Anda menginginkan perubahan atau perbaikan pembelajaran di kelas Anda. Inilah keputusan tentang letak di mana dampak tindakan itu mungkin diperoleh. Setelah memutuskan medannya dan melakukan peninjauan awal, Anda bersama kolaborator sebagai peneliti tindakan memutuskan rencana umum tindakan. Dengan menjabarkan rencana umum ke dalam langkah-langkah yang dapat dilakukan, Anda memasuki langkah pertama, yakni perubahan dalam strategi yang ditujukan bukan saja untuk mencapai perbaikan, tetapi juga pemahaman lebih baik tentang apa yang mungkin dicapai kemudian. Sebelum mengambil langkah pertama, Anda harus lebih berhati-hati dan merencanakan cara untuk memantau pengaruh langkah tindakan pertama, keadaan kelas Anda, dan apa yang mulai dilihat oleh strategi dalam praktik. Jika mungkin mempertahankan pencarian fakta dengan memantau tindakannya, langkah pertama diambil. Pada waktu langkah itu dilaksanakan, data baru mulai masuk, dan keadaan, tindakan, dan pengaruhnya dapat dideskripsikan dan dievaluasi. Tahap evaluasi ini menjadi peninjauan yang segar yang dapat dipakai untuk menyiapkan cara untuk perencanaan baru (Kemmis dkk., 1982: 6-7). Lihat Gambar 1 di bawah.
Gambar 1 menunjukkan bahwa peneliti mulai melihat masalah dalam kelas bahasa Inggris yang diampunya, yaitu cara pandang siswa yang kurang benar terhadap pemelajaran bahasa Inggris. Yaitu, siswa hanya tertarik belajar gramar dan kosakata dan pasif dalam belajar berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Peneliti memutuskan untuk mengubah cara pandang siswa dengan cara mengaktifkan siswa melalui pemberian tugas
Gambar 3.1: Proses Dasar Penelitian Tindakan
(Dimodifikasi dari Burns, 1999: 33).
‘information gap’ dengan menggunakan permainan dan bermain peran. Tugas ‘information gap’ merujuk pada tugas di mana terdapat kesenjangan yang mesti ditutup oleh siswa yang satu dengan cara berkomunikasi dengan siswa lainnya. Teknik tugas ini mencakup permainan bahasa, bermain peran, dan simulasi, mulai dari teknik-teknik semi-terbimbing untuk pelajar tingkat pemula dan menengah sampai teknik bebas (tanpa bimbingan) untuk pelajar tingkat lanjut. Rencana di atas dilaksanakan dan direkam prosesnya, kemudian berdasarkan data dilakukan refleksi, yang menghasilkan permasalahan baru, yaitu bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dengan tugas ‘information gap’ tersebut, sedangkan sebagian besar siswa tampak takut salah, cemas dan malu berbicara dalam bahasa Inggris. Maka, dalam tindakan kedua direncanakan untuk melakukan sesuatu yang dapat mengurangi rasa takut salah, kecemasan, dan rasa malu. Rencana ini dilaksanakan dan direkam prosesnya, kemudian dilakukan refleksi untuk melihat sejauh mana perubahan dicapai lewat tindakan kedua. Begitu seterusnya, siklus-siklus tindakan berlanjut sampai perubahan yang diinginkan dicapai dengan catatan bahwa tidak mungkin dicapai ketuntasan perubahan karena situasi dan kondisi kelas berubah terus secara dinamis.
Persoalan-Persoalan Praktis
Pemrakarsa Peneliti Tindakan
Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan suatu situasi, misalnya situasi belajar-mengajar di kelas dan situasi pengelolaan sekolah. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha kolaborasi penelitian tindakan: (1) kelompok orang yang langsung terlibat dalam kehidupan situasi terkait, seperti guru dalam situasi belajar-mengajar dan pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen), dan (2) kelompok orang yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk melaksanakannya, misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tetapi mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. Atau pimpinan suatu kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering terhambat tetapi mereka kurang mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi dalam situasi seperti itu. Dengan berperan sebagai fasilitator, peneliti mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan stafnya sebagai cara untuk meneliti masalah yang telah diidentifikasi oleh para guru. Kemudian mereka bekerja sama untuk melaksanakan penelitian tindakan.
Pemilik Penelitian Tindakan
Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator, misalnya seorang konsultan, sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tsb., dibuat merasa ikut memilikinya. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas pelaksanaan penelitian tsb. Rasa ikut memiliki ini dapat dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian, yaitu dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Dengan demikian, semua orang yang terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian tindakan tsb., merupakan bagian dari dirinya.
Sasaran Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah, namun dorongan untuk meneliti praktik secara sistematik yang sering timbul karena ada masalah yang perlu ditangani lewat tindakan praktis. Jadi penelitian tindakan tidak cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan nyata.
Data Penelitian Tindakan
Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan peneliti untuk merekonstruksi tindakan terkait, bukan hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu, pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat untuk membukukan amatan dan menjembatani antara momen-momen tindakan dan refleksi dalam putaran penelitian tindakan.
Data penelitian tindakan diambil dari suatu situasi bersama seluruh unsur-unsurnya. Data tersebut dapat berupa semua catatan tentang hasil amatan, transkrip wawancara, rekaman audio dan/atau video peristiwa/kejadian, yang dikumpulkan lewat berbagai teknik seperti disebutkan di bawah. Maka data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan, catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio, rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya.
Analisis Data
Analisis data diwakili oleh momen refleksi putaran penelitian tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti akan memiliki wawasan autentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya. Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta penelitian tindakan menjadi terlalu subyektif, dan oleh karena itu dia perlu berdiskusi dengan peserta-peserta yang lainnya untuk dapat melihat datanya lewat perspektif yang berbeda. Dengan kata lain, usaha triangulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu pendapat atau persepsi orang lain.
Akan lebih bagus jika dalam menganalisis data yang kompleks peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif, yang salah satu modelnya adalah teknik analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1984: 21-23). Analisis interaktif tersebut terdiri atas tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain: reduksi data, beberan (display) data, dan penarikan kesimpulan.
Reduksi data merupakan proses menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan, meringkas, dan mengubah bentuk data ’mentah’ yang ada dalam catatan lapangan. Dalam proses ini dilakukan penajaman, pemilahan, pemfokusan, penyisihan data yang kurang bermakna, dan menatanya sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat ditarik dan diverifikasi. Misalnya, data tentang proses pembelajaran kelas bahasa Inggris yang tergambar dalam Vignette 1 di bawah dapat direduksi dengan menfokuskan perhatian pada apa yang dilakukan guru pada permulaan kelas (membuka pelajaran), pada bagian utama pembelajaran, dan pada akhir pelajaran (menutup pelajaran). Pada bagian utama pembelajaran dapat direduksi dengan menfokuskan perhatian pada apakah ada tindakan guru yang berkenaan, misalnya, dengan (a) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam mamahami makna/isi teks bahasa Inggris sebagai teks asupan, (b) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam memahami aturan tatabahasa yang dipakai untuk mengungkapkan makna/pesan yang sama, (c) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam menggunakan ungkapan yang sama untuk berkomunikasi, apakah lewat permainan bahasa, bermain peran, atau simulasi, (d) upaya memotivasi siswa atau meningkatkan percaya diri siswa dengan memuji siswa yang telah menunjukkan upaya keras atau kinerja bagus dalam menggunakan bahasa Inggris dan mendorong siswa yang kehilangan semangat atau percaya diri untuk tetap berupaya, dan (e) upaya membantu siswa untuk meningkatkan kelancaran berbahasa Inggris serta (f) upaya membantu siswa untuk meningkatkan keakuratan berbahasa Inggris. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana guru mengelola kelas, yang bisa berkenaan dengan volume suaranya, pandangan mata, gerakan fisiknya, pengaturan tempat duduk, dan pengelompokan siswa. Dengan mereduksi data tentang proses pembelajaran bahasa Inggris yang demikian, akan dapat ditarik kesimpulan apakah guru menekankan pengembangan keterampilan berkomunikasi atau hanya mengajarkan unsur-unsur bahasa seperti struktur, kosakata, lafal, dan ejaan, atau hanya menekankan keterampilan membaca tanpa menghiraukan keterampilan berbicara. Juga dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dikelola sedemikian rupa sehingga cukup kondusif bagi terjadinya pembelajaran yang menyenangkan tetapi cukup efektif.
Setelah direduksi data siap dibeberkan. Artinya, tahap analisis sampai pada pembeberan data. Berbagai macam data penelitian tindakan yang telah direduksi perlu dibeberkan dengan tertata rapi dalam bentuk narasi plus matriks, grafik, dan/atau diagram. Pembeberan data yang sistematik, interaktif, dan inventif serta mantab akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga memudahkan penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Seperti layaknya yang terjadi dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan sepanjang proses pelaksanaan tindakan penelitian. Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara, yang ditarik pada akhir Siklus I, ke kesimpulan terevisi pada akhir Siklus II dan seterusnya, dan kesimpulan terakhir pada akhir Siklus terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling terkait dan kesimpulan pertama sebagai pijakan.
Perlu dicatat bahwa data yang dikumpulkan tidak hanya terbatas pada data tentang perubahan yang diharapkan, melainkan juga mencakup data tentang peningkatan/perubahan yang tak diharapkan (di luar rencana). Maka, kesimpulan yang ditarik juga harus mencakup perubahan yang direncanakan/diharapkan dan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya, peningkatan/perubahan yang diharapkan adalah (a) peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama dalam praktik berbahasa Inggris, (b) peningkatan pemahaman guru peneliti terhadap hakikat proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, dan (c) peningkatan suasana pembelajaran dari suasana membosankan menjadi mengasyikkan dan menyenangkan. Namun, ternyata guru peneliti juga menjadi sadar atas kekurangannya dalam hal kelancaran, ketepatan dan keakuratan berbahasa Inggris, dan kepala sekolah terkait juga mengalami perubahan sikap, yaitu dari sikap berpihak pada kelas yang diam/sunyi ke sikap yang menghargai kelas yang agak bising penuh suara siswa yang praktik berbahasa Inggris, misalnya seperti yang terjadi dalam penelitian Madya dkk (2002). Pendeknya, kesimpulan yang dibuat hendaknya mencakup semua perubahan/peningkatan pada diri peneliti dan anggota penelitian lainnya serta situasi tempat penelitian dilakukan.
Teknik-Teknik Pemantauan dalam Penelitian Tindakan
Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dalam penelitian tindakan. Penggunaan setiap teknik tentu saja ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkannya. Teknik-teknik yang dimaksud disajikan berikut ini.
1. Catatan Anekdot
Catatan anekdot adalah riwayat tertulis, deskriptif, longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan dalam kelas Anda dalam suatu jangka waktu. Deskripsi akurat ditekankan untuk meenghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan penafsiran. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa yang gayut dengan persoalan yang diteliti. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu.
2. Catatan Lapangan
Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi boleh mencakup referensi misalnya pelajaran yang lebih baik, perilaku kurang perhatian, pertengkaran picik, kecerobohan, yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait. Seperti halnya catatan anekdot, perhatian diarahkan pada persoalan yang dianggap menarik.
3. Deskripsi Perilaku Ekologis
Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda dapat dipakai, misalnya dalam situasi belajar-mengajar:
- Kelas dalam suasana serius, tetapi tawa meledak …
- Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukkan dan katakan”
- Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggung seorang siswa …
Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis, seperti telah disinggung di atas. Misalnya, ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti tidak boleh memberi komentar tentang maksud tertawa siswa tersebut. Atau ketika beberapa siswa menolak mengerjakan tugas, peneliti tidak boleh menafsirkan bahwa penolakan tersebut karena malas atau alasan lain. Kecenderungan untuk memberikan penilaian seperti ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka belum terlatih untuk menunda penilaian sampai refleksi dilakukan.
4. Analisis Dokumen
Gambaran tentang persoalan, sekolah atau bagian sekolah, kantor atau bagian kantor, dapat dikonstruksi dengan menggunakan berbagai dokumen: surat, memo untuk staf, edaran untuk orangtua atau karyawan, memo guru atau pejabat, papan pengumuman guru, papan pengumuman siswa, pekerjaan siswa yang dipamerkan, garis besar, tes formal dan informal, publikasi siswa atau karyawan, kebijaksanaan, dan/atau peraturan. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk berbagai persoalan.
5. Catatan Harian
Catatan harian adalah riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. Catatan harian mungkin memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individual sampai pemantauan diri tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. Siswa atau karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tentang topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif.
Catatan harian dapat digunakan untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:
· merekam secara teratur informasi faktual tentang peristiwa, tanggal dan orang, dengan klasifikasi judul, misalnya Kapan? Di mana? Siapa? Yang mana? Bagamana? Mengapa? Data yang direkam dapat membantu peneliti merekonstruksi urutan waktu atau peristiwa sebagaimana terjadi.
· Aide mémoire untuk merekam catatan pendek tentang penelitian yang sedang dilakukan untuk refleksi kemudian.
· Memotret secara rinci peristiwa dan situasi tertentu yang memberikan data deskriptif lengkap yang akan digunakan untuk laporan lengkap tertulis
· Catatan introspektif dan evaluatif-diri di mana peneliti mencatat pengalaman, pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.
6. Logs
eknik ini pada dasarnya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas, dan sebagainya. Kegunaannya ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian tentang organisasi dan peristiwa lain.
7. Kartu Cuplikan Butir
Teknik ini mirip dengan catatan harian tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan tentang sejumlah topik, satu untuk satu kartu. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topik-topik seperti pendahuluan pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian, kontak individual dengan siswa, dan perilaku seorang siswa. Kartunya dikocok dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya, dan dengan demikian membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko memberikan tekanan terlalu berat atau menimbulkan kebosanan dengan aspek tertentu.
8. Portfolio
Teknik ini digunakan untuk membuat koleksi bahan yang disusun dengan tujuan tertentu. Portfolio mungkin memuat hal-hal seperti tambatan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti, korespondensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subyek penelitian, kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai, dan/atau tambatan rapat staf yang relevan; singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan persoalan yang diteliti dapat dimuat.
9. Angket
Angket terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaan ada dua macam.
a. Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahap-tahap eksplorasi, tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah.
b. Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat atau deskripsi yang paling dekat dengan pendapat, perasan, penilaian, atau posisi mereka.
Pertanyaan harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Mengujicobakan pertanyaan dengan teman atau cuplikan (sample) kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh.
10. Wawancara
Teknik ini memungkinkan meningkatnya fleksibilitas dari pada angket, dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara jelas dibatasi dari mula. Wawancara dapat:
a. Tak terencana: misalnya, omong-omong informal di antara para pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subyek penelitian.
b. Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara, tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. Pewancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas.
c. Terstruktur: Pewancara telah menyusun serentetan pertanyaan yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah pertanyaan-pertanyaan.
11. Metode Sosiometrik
Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah individu-individu disukai atau saling menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui dengan siapa subyek tertentu ingin bekerja sama, atau berhubungan dalam suatu kegiatan bersama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sosiogram, seperti pada Gambar 2. 1 di bawah, yang mencatat hubungan seluruh kelompok.
Gambar 2.1: Sosiogram Kelompok Delapan Orang
12. Jadwal dan daftar tilik (checklist) interaksi
Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti atau pengamat. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu, atau berdasarkan peristiwa, yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi. Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Misalnya dalam situasi sekolah, kategori jadual dan daftar tilik (checklist) dapat menunjuk pada:
- Perilaku verbal guru: misalnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan (individu atau kelompok), memberi contoh melafalkan kata/frasa/kalimat
- Perilaku verbal siswa: misalnya, menjawab, bertanya, menyela, berkelakar, mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.
- Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum, mengerutkan kening, memberi isyarat, menulis, berdiri dekat siswa pandai, duduk dengan siswa lamban.
Perilaku nonverbal siswa: misalnya menoleh, mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa, menangis, mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.
13. Rekaman pita
Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran, rapat diskusi, seminar, lokakarya, dapat menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada analisis yang cermat. Metode ini khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mana perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan. Jika transkripsi ekstensif diperlukan, prosesnya mungkin menjadi sangat panjang dari segi waktu.
14. Rekaman video
Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa untuk dianalisis kemudian, misalnya kegiatan pembelajaran di kelas. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada asisten yang membantu, lebih banyak perhatian dapat diberikan pada reaksi dan perilaku subyek secara perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. Subyek-subyek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian.
15. Foto dan slide
Foto dan slide mungkin berguna untuk merekam peristiwa penting, misalnya aspek kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik. Karena daya tariknya bagi subyek penelitian, foto dapat diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi tentang data.
16. Penampilan subyek penelitian pada kegiatan penilaian
Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Alat penilaian tersebut dapat dibuat oleh peneliti atau para ahlinya. Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan.
Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih sesuai dengan cirri khas data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama dapat dikumpulkan dengan teknik yang berbeda.
Prinsip-prinsip Etis Proses Penelitian Tindakan
Peneliti tindakan, sebagai praktisi, melakukan penelitian untuk mencapai peningkatan dirinya dan peningkatan situasi bersama orang-orang di dalamnya. Dengan kata lain, peneliti tindakan melakukan penelitian untuk mempengaruhi orang lain menuju peningkatan/perbaikan yang diinginkan. Dalam hal ini hendaknya dia melakukan perubahan tersebut dengan cara yang etis. Di bawah akan disajikan uraian singkat tentang prinsip-prinsip etika yang perlu diterapkan dalam melakukan penelitian tindakan (McNiff, Lomax dan Whitehead, 2003).
Kelengkapan Dokumen
Peneliti tindakan hendaknya membagikan dokumen etika ke semua peserta penelitian. Dokumen etika tersebut mencakup pernyataan etika dan surat ijin. Ketika melaporkan hasil penelitian, kedua dokumen ini perlu dilampirkan tetapi semua nama orang dan nama organisasi harus ditutup (disembunyikan). Pada surat ijin, harus juga ditutup nama, alamat dan tanda tangan yang ada.
Negosiasi Akses
a. Dengan Yang Berwenang
Pelaku PTK hendaknya menghubungi kepala sekolah dan pimpinan lain sebelum melakukan penelitian. Peneliti hendaknya juga memperoleh persetujuan tertulis tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Jika ada perubahan rencana atau hal lain, peneliti hendaknya memberitahukan perubahan ini kepada pimpinan terkait dan minta ijin untuk meneruskan penelitian dengan perubahan tersebut.
b. Dengan Peserta
Pelaku PTK hendaknya minta persetujuan kepada sejawat orang-orang yang diharapkan akan terlibat dalam penelitiannya. Mereka hendaknya secara terus menerus diberi informasi tentang penelitian tersebut. Mereka hendaknya diyakinkan bahwa mereka adalah peserta penelitian dan peneliti-pendamping, bukan sekedar ’subjek garapan’. Peneliti hendaknya meyakinkan bahwa dia meneliti dirinya sendiri dalam kaitannya dengan mereka. Hal ini hendaknya dijelaskan sesering mungkin bila diperlukan untuk membuat mereka merasa enak dengan apa pun yang dikerjakan peneliti. Karena mereka ini merupakan sumber daya yang berharga, mereka perlu diperlakukan dengan hati-hati.
c. Dengan Orangtua atau Wali Murid
Karena PTk Anda melibatkan siswa, Anda hendaknya minta ijin kepada orangtua mereka. Surat permohonan ijin sebaiknya dikirim ke rumah mereka. Apabila orangtua mengalami kesulitan membaca, Anda sebaiknya memberi penjelasan lisan. Anda hendaknya berupaya agar orang-orang terkait mendukungnya dari permulaan dan hendaknya kepercayaan mereka dijaga dengan baik.
3. Menjaga Kerahasiaan
a. Kerahasiaan Informasi
Anda sebagai peneliti hendaknya menyatakan dengan tegas bahwa Anda hanya akan menggunakan informasi yang termasuk wilayah publik dan yang sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Anda juga harus menegaskan bahwa informasi yang bersifat pribadi tidak akan dilaporkan. Jika ada informasi yang sensitif yang akan digunakan, peneliti hendaknya minta ijin kepada sumber informasi tersebut.
b. Kerahasiaan Identitas
Anda sebagai peneliti tindakan hendaknya tidak menyebut nama orang atau tempat kecuali telah mendapatkan ijin untuk menyebutnya dalam laporan. Anda juga tidak boleh menyebut nama fiktif karena nama tersebut mungkin sama dengan nama milik orang lain. Untuk identitas peserta, sebaiknya peneliti menggunakan inisial, nomor atau simbol lain. Jika mempeoleh ijin tertulis dari organisasi atau lembaga terkait, Anda boleh menyebut nama organisasi atau lembaga tersebut.
c. Kerahasiaan Data
Jika Anda sebagai peneliti bermaksud menggunakan data asli seperti transkrip, atau saripati dari rekaman video, hendaknya Anda mengecek pada pemiliknya untuk keberterimaannya dan hendaknya dia minta ijin kepada mereka. Anda hendaknya selalu minta sumber data untuk mengecek keakuratan informasi dan menyunting transkrip untuk mengecek kontribusi mereka. Anda hendaknya juga minta orang lain untuk membaca versi deskripsinya tentang peristiwa-peristiwa yang diteliti sebelum diterbitkan.
d. Menjamin Hak Peserta untuk Mengundurkan Diri dari Penelitian
Dari waktu ke waktu Anda hendaknya memastikan bahwa peserta penelitian merasa enak dengan prosedur penelitian dan bebas bersikap dalam penelitian terkait. Mereka perlu diberitahu bahwa hak-haknya dilindungi dan bahwa mereka bisa mengundurkan diri jika menghendaki, dan semua data tentang mereka akan dimusnahkan setelah pengunduran diri mereka.
e. Menjaga Kode Etik Profesional dan Akademik
Pengumpulan data dan pembuatan laporan PTK Anda lakukan dengan memenuhi persyaratan akademik dan profesional. Perekaman perkuliahan atau kegiatan kelompok hendaknya dilakukan dengan ijin. Ketika mewawancari orang, Anda hendaknya menjelaskan bagaimana data akan digunakan dan tepati komitmen ini. Ketika membuat laporan, Anda hendaknya mengakui kontribusi intelektual orang lain dan tidak menggunakan perkataan orang lain tanpa pengakuan. Sebagai pelaku PTK, Anda hendaknya selalu ingat bahwa meneliti adalah pekerjaan profesional yang menuntut komitmen kerja keras dan tanggung jawab pribadi.
f. Jaga Kepercayaan
Dari awal Anda hendaknya meyakinkan orang-orang yang terlibat dalam penelitiannya bahwa dia dapat dipercaya, dan akan menepati janji tentang negosiasi, kerahasiaan dan pelaporan. Anda hendaknya selalu melakukan pengecekan bilaman ragu-ragu atau ada kesalahpahaman. Selain itu, Anda hendaknya melindungi orang lain dan juga diri Anda.